Ekspansi Bisnis: Konspirasi Dibalik Label “Masakan Padang”
Masakan Padang memang sudah menjadi legenda di negeri ini dan telah tersebar merata keseluruh nusantara. Dimana-mana kita bisa menjumpai masakan Padang mulai dari Aceh sampai Papua. Begitu juga dinegara-negara tetangga seperti Malaysia, Australia bahkan sampai ke Amerika dan Eropa. Masakan ini dibawa oleh perantau Minang yang bermukim ke daerah lain dan membuat restoran disana. Bumbu dan citarasanya kadang-kadang dimodifikasi sesuai dengan selera panduduk setempat. Seperti di daerah Jawa Barat, masakannya dibuat dengan bumbu yang tidak terlalu pedas sesuai dengan selera orang Sunda.
Satu hal yang menarik adalah walaupun namanya masakan Padang, namun sangat sedikit orang kota Padang sendiri yang memiliki restoran ini, melainkan orang-orang dari daerah lain di Sumatera Barat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Solok dan Batusangkar. Tapi karena publik lebih mengenal masakan Padang, maka mau tak mau orang-orang dari luar kota Padang yang membuat restoran pun memberi label Masakan Padang pada restoran mereka supaya lebih diketahui oleh khalayak ramai. Jika membuat label sendiri -misalnya Masakan Payakumbuh- publik pun akan berpikir ini jenis masakan dari mana dan citarasanya seperti apa. Daripada konsumen berpikir seperti itu lebih baik pemilik restoran membuat label masakan Padang yang lebih dikenal.
Ternyata pemberian label ini mendapat perlawanan dari berbagai daerah yang ada di Sumatera Barat, masyarakat perantau dari Bukittinggi pun tidak rela harus melabeli restorannya dengan nama restoran khas Padang. Masyarakat Bukittinggi dan daerah Agam pun mencoba melawan hegemoni masakan Padang dengan membuat rumah makan khas Bukittinggi. Rata-rata restoran ini menjual nasi Kapau yang memang khas dari daerah sana. Restoran khas Bukittinggi ini memang memiliki citarasa yang sedikit berbeda dengan masakan Padang pada umumnya namun dengan filosifi yang hampir sama, yaitu bermain dengan aneka bumbu dengan paduan yang ekstrim.
Gelombang ketidakpuasan tidak hanya dari Bukittinggi, para perantau Pariaman pun tidak lagi melabeli restoran satenya dengan Sate Padang melainkan dengan Sate Khas Pariaman. Penulis pun tentu dibuat bingung dengan hal ini, apakah ini semacam bentuk perlawanan atau hanya sekedar mempertahankan identitas semata. Untuk jelasnya, silahkan pembaca makan di restoran Bukittinggi atau sate Pariaman kemudian menanyakan kepada pemiliknya apakah yang sebenarnya terjadi.
OOHH…. Begonoh!
Ambo pesan ayam bakar ciek, uda..
Nah..terbukti kan…
!!!
dimana-mana Padang lebih dikenal dibanding Bukittinggi, Pariaman atau Padang Panjang
just opinion
peace..
pasan soto padang ciek da…
Aduuh…yang begini aja dipermasalahkan…
Yang penting kan sumatra barat-nya yang terkenal, soalnya orang-orang di luar sumatra misalnya orang jawa, menyebut orang yang berasal dari daerah sumbar entah itu bukit tinggi, pariaman atau daerah lainnya yang ada di sumbar, orang tetap menyebutnya “orang padang”.
assalaamu’alaikum W.W
salam hormatku untuk bang hamdi dari jl.Gajah 3 no 3 Air Tawar Barat Padang di Al-Aqsha 1 sayapun ikut salut dengan apaprestasi yang sudah bang hasilkan. sayapun terinspirasi tuk secepatnya meninggalkan UNP menuju dunia intelektual baru guna berkarya untuk umat dan bangsa ini. o..ya bang klu ada info beasiswa dari sana jangan lupa beritahu yaaa…
wassalam. Shabahul Badri
assalamu’alaikum Bg hamdi. mudah2an padang dikenal baik diluar. apakah lewat masakan atau kaum intelektualnya… setuju kan bang? o..yo bang tolong kirimkan wak e-mail bang hamdi, bang jhon, ni riri dan dan berry devanda. sukses selalu buat bang disana.
wass. Shabahul Badri. Fisika UNP 2004
Aslmkm…
bagaimana kabarnya ketua? kabarnya mau langsung ngambil program doktoral di luar y? sukses selalu…
yang penting enak, perut kenyang n makanannya berkah untuk hidup….itu aja cukup,…dunia memang banyak konspirasi!!! BINGUNG
Bukan Masakan Padang Tapi masakan Minang.