Kenangan masa lalu, rekaman masa kini dan keinginan untuk masa depan

Rekonstruksi pemikiran…

Posted in dakwah, pendidikan, tulisan by Khairul Hamdi on Juni 25, 2007

Kita sebagai umat Islam kadang berpikir bahwa penegakan syariat Islam merupakan sebuah utopia, terlebih adanya anggapan bahwa syariat Islam dengan segala konsekwensi yang hukuman yang begitu mengerikan seperti hukum potong tangan, rajam, dera dan lain sebagainya. Pemahaman yang parsial tentang hukum Islam tentunya aka membawa kepada pemahaman yang keliru tentang hukum Islam itu sendiri. Dalam Islam, penjatuhan hukuman kepada seseorang dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebagai contoh hukuman kepada pelaku zina baru dilakukan apabila sudah mempunyai saksi sebanyak 4 orang laki-laki yang adil. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Annisa ayat 14.

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.

Dalam penetapan suatu hukum, Islam menganut azaz praduga tak bersalah, dimana seseorang tidak boleh menuduh orang lain berbuat kejahatan sebelum membawa bukti-bukti yang nyata dan jelas tentang kejahatan yang dilakukanya. Seperti menuduh wanita baik-baik melakukan zina Islam mengancam dengan hukuman 80 kali dera seperti yang dijelaskan pada ayat 4 pada surat An-Nuur.

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

Ayat ini sangatlah manusiawi dan rasional sekali, Islam menyuruh umatnya untuk berhati-hati dalam menuduhkan seseorang dalam berbuat kejahatan dan lebih mengatamakan prasangka baik (husnudzan) dalam kehidupan sesama manusia.

Faktor utama penyebab kemunduran ummat Islam adalah ketika umat Islam tidak lagi berpegang teguh kepada AlQur’an dan Sunnah. Tidak adanya institusi Islam berupa khilafah sebagai institusi pelaksana hukum Islam menyebabkan umat Islam hanya mengamalkan sebagian kecil dari aturan-aturan yang Islam yang ada dalam AlQuran, yang diamalkan adalah aturan-aturan yang kaitannya dengan peran individu saja seperti masalah etika, ibadah shalat, puasa dan lain sebagainya. Sedangkan aturan-aturan yang berkaitan dengan peran hukum, politik dan segi-segi lain yang mengharuskan adanya interaksi antar menusia seperti ekonomi, hukum dan politik hukum-hukum Islam tidaklah dilaksanakan, walaupun ada itu hanyalah pada komunitas-komunitas yang kecil dan belum menyentuh seluruh ummat. Akibatnya indah berIslam secara kaffah belumlah dapat kita nikmati seutuhnya.

Langkah awal yang mesti dilakukan adalah rekonstruksi ulang dalam pikiran kita bahwa hukum Islam merupakan hukum yang terbaik yang pernah ada di dunia ini. Adanya keyakinan bahwa Islam dengan syariatnya yang mengatur seluruh aspek hidup manusia merupakan cara untuk membawa manusia kepada keadilan dan kedamaian. Penegakan syariat ini tidak hanya membawa kedamaian kepada kaum Muslimin tetapi kepada seluruh manusia seluruhnya, termasuk alam lingkungan yang disamping diambil manfaatnya juga harus dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.

Adanya pemahaman yang masih parsial menyebabkan umat Islam kadang masih ragu-ragu dalam memperlihatkan identitas keislamanya. Berbagai sunnah-sunnah Rasullullah banyak yang kita tinggalkan, padahal dalam sunnah tersebut terkandung banyak hikmah dan manfaat disamping mengikuti sunnah Baginda Rasul SAW merupakan tanda kecintaan kita kaum Muslim kepada beliau. Untuk itu walaupun ada penolakan dari berbagai pihak baik berupa ejekan maupun pernyataan apatis dan skeptis janganlah membuat kita ragu untuk tetap menunjukan semangat dan identitas keislaman kita.

Islam dan Teknologi

Islam tidak melarang umatnya dalam melakukan berbagai inovasi dalam

kehidupannya.

 

Bahkan dinyatakan dalam surat Ar Rahman ayat 33 bahwa manusia diransang untuk menembus penjuru langit dengan kekuatan yang dimilikinya ;

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Tidak menjadi suatu perdebatan lagi dikalangan ulama dan cendikiawan muslim untuk perlunya menguasai sains dan teknologi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat. Namun sebagaimana yang kita ketahui hampir semua negara muslim mempunyai daya produksi yang rendah dan bersifat sebagai negara importir yang mengimpor barang-barag teknologi tinggi dengan harga yang mahal dan mengekspor bahan-bahan mentah dengan harga yang murah. Negara-negara berkembang yang sebagian merupakan negara muslim hanya sebagai pengikut trend-trend teknologi yang berkembang dibarat.

Negara negara barat saat ini sedang mengalami puncak peradabanya, sesuai dengan hukum-hukum sejarah yang berlaku sepajang masa, suatu peradaban akan mengalami penurunan setelah mencapai titik terminasinya. Apabila suatu peradaban sudah mengalami titik puncak maka secara perlahan-lahan akan menurun dan akan segera digantikan dengan peradaban yang lain. Kejenuhan yang menlanda masyarakat barat dan ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap teknologi telah membuat masyarakat ini berpaling kepada filsafat timur, peradaban yang terlalu mengagungkan rasionalitas dan berpikir hanya dari segi materalistis tentu akan menghapi gerbang kehancuran karena tidak sesuai dengan fitrah manusia yang pada dasarnya butuh ketenangan dan butuh “sesuatu” untuk disembah dan fitrah manusia yang akan menghambakan diri pada “sesuatu”.

Ini merupakan peluang umat Islam untuk kembali menunjukan eksistensinya kepada dunia sebagai rahmatan lil alamin. Dan membawa angin segar kepada manusia-manusia yang tengah mengalami kekeringan jiwa dan menyegarkannya dengan nilai-nilai Islam yang sesuai fitrah dan membawa ketenangan. Tentunya kita sebagai penyeru risalah ini haruslah menjadi contoh terlebih dahulu, karena mustahil memberikan sesuatu kepada orang lain apa tidak kita miliki.

Dikutip dari buku Syekh Al Qaradhawi “ Umat Islam abad ke 21”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: