Kenangan masa lalu, rekaman masa kini dan keinginan untuk masa depan

Manusia: Pertarungan Tiga Elemen

Posted in dakwah, pendidikan by Khairul Hamdi on Februari 4, 2008

Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap akibat merupakan konsekwensi logis dari sebuah sebab. Pemahaman ini sudah dipahami oleh manusia beribu-ribu tahun yang lalu. Bahkan hal ini juga dialami oleh nenek moyang kita Nabi Adam Alaihi Salam ketika dia diusir dari surga karena melanggar perintah Allah SWT dengan memakan buah khuldi. Ketika disurga Adam dapat menggapai apa yang diinginkan oleh hatinya tanpa harus susah payah dan bekerja keras untuk menggapainya. Ketika diturunkan kebumi nabi Adam pun harun bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Bila ingin makan harus berburu binatang dulu, bila ingin mempunyai pakaian harus mengambil kulit hewan atau kulit kayu. Bila ingin istirahat dengan tenang supaya terhindar dari hujan dan panas harus mencari goa yang aman atau membuat rumah sendiri. Intinya sebelumnya mendapat apa diinginkan, nabi Adam AS harus terlebih dahulu berusaha. Takdir ini juga diberlakukan kepada seluruh keturunan nabi Adam yaitu kita umat manusia ini. Kita pun harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah SWT yang Maha Pengasih telah memberikan modal kepada kita berupa hati, akal pikiran dan nafsu.

Hati menjadi ukuran nilai dalam setiap tindakan yang akan kita perbuat. Hati manusia tidaklah dikendalikan oleh manusia itu sendiri, namun dikendalikan oleh Allah SWT sebagai Pemilik hati itu. Hati yang bersih disebabkan oleh hubungan yang baik dengan sang Khalik. Hati yang bersih akan bersinergi dengan keimanan yang kuat dan ibadah yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Komponen hati yang terdapat pada manusia akan mempengaruhi dua komponen lainnya yaitu akal dan nafsu. Hati yang bersih akan membuat pikiran menjadi lapang dan nafsu akan cenderung kepada nafsu yang diridhoi ( nafsu Muthmainnah). Hati yang kotor akan membuat pikiran menjadi ikut kotor dan nafsu akan cenderung kepada hal-hal yang tidak diridhoi. Pembersihan hati dapat dilakukan dengan ibadah yang benar. Melaksanakan hal-hal yang diwajibkan dan hal-hal yang sunnah sebagai ibadah tambahan.

Pikiran merupakan modal yang penting dalam berinteraksi dengan alam dunia yang sangat rasional ini. Gejala-gejala alam hampir semuanya menunjukan rentetan peristiwa yang sangat rasional yang dapat dicerna oleh akal. Rasionalitas yang terdapat dialam ini amatlah penting bagi manusia untuk dipelajari sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari alam itu sendiri. Ketika manusia mempelajari daur hidup bakteri dan memahami attribut dan tingkahlaku ( behavior ) apa saja yang dimilikinya. Maka para ilmuwan dapat memahami dengan dalam ( aspek sains ) dan melakukan rekayasa ( aspek teknologi ) sehingga sedemikian rupa ada aspek manfaat ( utility ) yang dapat diambil oleh manusia. Dengan mengetahui aturan-aturan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah yang Maha Pengatur terhadap gerakan planet dalam alam semesta ini, kita dapat menyusun aturan penanggalan, mengatur posisi satelit pada orbit planet dan banyak manfaat yang lainnya. Sekali lagi hal ini membutuhkan sebuah pemahaman keilmuan dengan menggunakan metode ilmiah sebagai sebuah tool yang powerfull dan merupakan tool yang terbaik saat ini. Tool ini sudah digunakan oleh peradaban timur dan barat dari peradaban purba sampai ketingkat peradaban sekarang ini dengan kemunculan nanotechnology dan biotechnology sebagai trend utamanya. Setelah sebelumnya mengalami era mesin uap, mesin listrik, semikonuktor dan teknologi informasi yang kini sudah berlalu..

Aspek yang ketiga adalah nafsu, nafsu adalah komponen yang diberikan kepada manusia sehingga manusia bisa menjaga jasad, kesehatan dan eksistensinya dimuka bumi ini. Orang yang selamat, nafsunya dikendalikan oleh hati dan pikirannya. Hati yang bersih akan membuat pikiran menjadi lapang. Hati yang dekat dengan sang Khalik membuat kita berpikir Rabbani, mampu berpikir jauh kedepan sampai ke alam akhir. Sedangkan orang yang tidak selamat, justru pikirannya dikendalikan oleh nafsunya. Sehingga dia tidak bisa berpikir jernih dan bahkan kadang pula tidak bisa pula berpikir rasional. Banyak para pejabat dan pengusaha menemui “orang pintar” dengan harapan kekuasaannya tetap langgeng atau usahanya bertambah maju. Sebenarnya orang-orang ini tahu bahwa perbuatan tersebut bukanlah perbuatan yang rasional, bertentangan dengan hukum kausalitas yang ada di alam ini. Namun dorongan nafsu -akibat hati yang telah tertutupi- membuat mereka tidak lagi bisa berpikir jernih. Sehingga jatuhlah dia menuju jurang kebinasaan.

Allah SWT yang Maha Penolong tentu tidak meninggalkan hambaNya tersesat dalam kgelepan tanpa adanya penunjuk jalan menuju cahaya. Untuk itu diutuslah Nabi dan Rasul sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan kepada segenap umat manusia untuk mengingatkankan kembali tujuan penciptaan dirinya, memberikan berita gembira dengan syurga yang penuh kenikmatan bagi orang yang tetap berada dijalan yang lurus dan neraka yang penuh kesengsaraan bagi orang yang durhaka dan ingkar terhadap tujuan penciptaan dirinya.

Dengan wahyu yang diberikan kepada utusanNya dengan perantaraan arRuhul Amin Jibril AS, ketiga entitas yang dimiliki oleh manusia berupa hati pikiran dan nafsu diingatkan kembali akan fitrahnya masing-masing. Hati yang tertutupi akibat dosa besar dan dosa kecil yang dilakukan berulang ulang dibersihkan kembali dengan terlebih dahulu memantapkan akidah yang mantap, diikuti dengan keimanan yang kokoh dan ibadah yang benar sesuai dengan syariah. Kekotoran jiwa pada manusia dapat dibersihkan dengan melakukan zikir atau mengingat Allah SWT dalam berbagai waktu dan bermacam aktifitas.

Pikiran juga diarahkan menuju pikiran yang Rabbani dan selalu berpikir dalam kerangka ketuhanan. Rasionalitas yang ada dialam pada akhirnya akan kembali kepada keyakinan betapa berkuasanya Allah SWT dan betapa kecilnya ilmu yang dimiliki oleh manusia . Alam semesta yang begitu rumit sebagian besar merupakan misteri yang belum dapat dipecahkan,apabila ditemukan suatu fenomena baru, maka fenomena yang ada dibalik itu akan lebih besar lagi dan akan menjadi misteri yang berkelanjutan yang menggelitik para ilmuan dan pemikir. Kepasrahan total akan timbul bagi orang-orang yang dapat memahami tingkah laku alam ini. Sehingga akan timbul keyakinan tanpa paksaan betapa Maha Tingginya Allah SWT , dan betapa amat lemahnya manusia dan amat terbatasnya ilmu yang dimiliki sehingga kesombongan seharusnya akan terkikis habis pada diri manusia.

Nafsu yang ada pada diri manusia diarahkan kepada hal-hal yang diridhoiNya, manusia dituntut tidak memperturutkan hawa nafsunya dan harus berusaha untuk mengekangnya. Hawa nafsu yang diperturutkan akan membuat manusia jatuh kejurang kenistaan dan akan menjadi makhluk yang hina, baik disisi Tuhan maupun disisi manusia.

Bandung

Sabtu 2 Februari 2008

Pukul 16.59 WIB Ba’da Ashar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: