Kenangan masa lalu, rekaman masa kini dan keinginan untuk masa depan

Kisah tragis seorang bocah pembunuh

Posted in pendidikan by Khairul Hamdi on September 11, 2009

Tulisan ini saya kutip dari sebuah milis yang saya lupa nama pengarangnya. Sengaja ditampilkan disini supaya diketahui oleh khalayak ramai. Semoga bermanfaat.
PistolTerus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Ihsan sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Ihsan. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

“siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Ihsan pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

“Ihsan nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai Ihsan sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Ihsan menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Ihsan. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, Ihsan selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk Ihsan. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Ihsan yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Ihsan memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Ihsan.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Ihsan yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Ihsan. Hasilnya dua hari kemudian Ihsan kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Ihsan minta maaf, tapi Ihsan kangen sama ibu Ihsan. Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Ihsan) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Ihsan itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan Indonesia .

Tagged with: , , ,

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dodik Setiawan said, on September 11, 2009 at 6:42 am

    Tulisan bagus mas/mbak… sebagai orang yang paham hukum saya sangat trenyuh memang melihat peta peradilan di Indonesia… bahkan mungkin juga ini diakibatkan (secara makro) kemiskinan di Indonesia yang muaranya dari “korupsi uang rakyat” oleh para konglomerat atau politisi jahat. Salam kenal.

    http://dodiksetiawan.wordpress.com

  2. atashihenny said, on September 13, 2009 at 3:36 pm

    miris sekali membaca kisah “Ihsan” ini….
    bocah berusia 8 tahun tidak semestinya tercerabut dari kasih sayang bunda-nya…

    Ihsan mungkin salah karena melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya dengan jalan yang tidak semestinya…(bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa terfikir untuk membunuh???)…

    tapi apakah terali besi adalah tempat yang tepat bagi seorang bocah untuk belajar arti kehidupan? hitam-putih kehidupan? mencari tauladan bagi dirinya?

    Semoga Allah senantiasa melindunginya, menuntunnya, membimbingnya ke jalan-Nya dan senantiasa melingkupi “ihsan” dengan ridha dan berkahNya…

    amiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.

  3. dita said, on Desember 4, 2009 at 4:53 am

    hukum indonesia…………..begitulah!! yang kaya yang berkuasa….
    Ya Tuhan…aku tau kau maha adil….dan aku tau kau akan mengampuni dosa anak tersebut,,dan memberikan tempat yang layak. . . meski bukan untuk saat ini!!
    Buat ihsan….sabar ya Nak…

  4. Vat astavat said, on Oktober 3, 2011 at 12:27 am

    akupun terharu membacanya bung….?
    dan juga kaya cerita di film PRISON BREAK aja,hehe…tp kisah ini darii Indonesia.

  5. winda said, on Desember 27, 2011 at 4:24 am

    gillak.. aku mpe nangis bacanya.. hehehe..
    terharu banget..
    kasyan ihsan.. sabar ya..🙂

    • arif pw said, on Februari 14, 2013 at 4:01 pm

      iya, kasian..
      Sy jga sma d penjara gara2 yg sma dngn ihsan.. Tp kalo mnurut sy ihsan sh anak yg baek dn brbkti pada org tua.a.. Dia mmbunuh krna dia syg sma org tua.a..

  6. dewi said, on Juli 20, 2012 at 9:57 am

    lanjutannya mana? kabar ihsan skrg gimana ya? kasiaan banget😥

  7. arif pw said, on Februari 14, 2013 at 3:57 pm

    kasian, kalo sya presiden sya akan bebas kan ihsan..
    Hahaha.. Tp syg sy bkan presiden

  8. Anonim said, on Mei 25, 2013 at 10:51 pm

    Pelajaran yang sangat berharga..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: